Perjuangan Nenek Emi Saat Terhempas Tsunami
Selasa, 16 November 2010 - 11:34 wib
Rus Akbar - Okezone

PADANG - Malam sekitar pukul 21.42 WIB di sebuah rumah yang beratap rumbia, dinding dan lantai terbuat dari papan, gelak tawa seorang nenek dan cucuknya terlihat dari beranda rumah di Dusun Muntei Barubaru, Desa Betumonga, Kecamatan Pagai Utara, Kepulauan Mentawai.
Hujan lebat disertai petir tak menyurutkan sang nenek bernama Emi Samongilailai (72) bergelut dengan cucu barunya yang lahir satu bulan lalu. Mendadak gelak tawa itu hilang ketika hentakan keras dari dalam tanah mengguncang perkampungan mereka.
Isi rumah berjatuhan dan bunyi bangunan yang bergetar sangat keras terasa. Warga pun berteriak “Teteu” (gempa). Murni Jekonia (40), anak kandungnya, berserta istri serta anak-anaknya yakni Jenny, Jurni dan Nelly, ke luar rumah bersama warga lainnya secara berhamburan.
“Cukup lama gempa itu terjadi, usai gempa kami pun kembali masuk rumah karena di luar hujan lebat dan petir. Saat kaki kami melangkah masuk rumah, suara gemuruh bersama suara petir terdengar dari pantai,” katanya sambil menahan sakit di RSUP Dr M Djamil, Padang, belum lama ini.
Dia, yang menempati rumah yang terletak 20 meter dari bibir pantai, mendengar suara gemuruh keras, warga lain berlarian ke arah bukit. “Amoi onu sabeu! (datang gelombang besar),” itulah teriakan dari warga yang lari. Si Nenek bersama cucunya pun lari menyelematkan diri ke daerah yang lebih tinggi.
Saat mereka lari, rumah-rumah sudah hancur kena terjangan tsunami. Air laut naik dari sungai sebelah kiri, sang Nenek sudah terjebak, karena air laut sudah menggenangi pemukiman dan sungai yang akan disebranginya.
Suara gemuruh keras itu makin dekat, rumah-rumah berantakan kena hantaman tsunami dari arah kiri gelombang laut setinggi empat meter itu masuk ke perkampungan. “Kami mau berlari sudah tidak bisa lagi, air sudah masuk saat saya mencoba berenang, sebuah bangunan rumah menghantam dan menjepit kaki saya hingga tak bisa bergerak,” tutur Emi yang kini mengalami patah tulang di bagian paha ini.
Dari belakang (arah pantai) gelombang setinggi tujuh meter datang diiringi suara menggelegar, Emi pun akhirnya tenggelam. Saat datang gelombang tinggi itu, dia sempat melihat menantunya menggendong cucunya yang baru berusia dua minggu. “Dia terlepas dari pelukan saat tubuh ibunya dihantam gelombang besar bersama puing-puing bangunan rumah. Saya tidak tahu lagi, karena saat itu air sudah menenggelamkan saya,” kisahnya.
Dalam posisi tenggelam di tengah kampung, dia kembali ditabrak kayu besar tepat di dadanya kemudian dari belakang kayu kembali menghantam tengkuknya.
“Tapi saat itu saya masih sadar meski posisi saya sudah tenggelam, airnya keruh hitam dan pahit. Saya mencoba menahan napas di dalam air, sementara air yang masuk itu bergulung dan membuat pusaran besar,” kenangnya.
Entah apa lagi yang terjadi, setelah air susut dari perkampungan Muntei Barubaru, kondisi kampung sepi, gelap dan hujan. “Pandangan saya tidak bisa melihat jauh, karena hari sudah malam. Sementara kampung sudah hening dan lengang, padahal sebelumnya masih ramai suara anak-anak dan bunyi mesin diesel listrik keluarga,” ujarnya.
Sayup-sayup dari jarak jauh mendengar suara orang memanggil namanya. “Emi, Emi... saya coba himpun kekuatan sekali pun suara saya sudah terkuras habis. Saat itu saya pun terperangkap reruntuhan bangunan,” lirihnya.
Ada sekitar lima orang yang datang, tapi Emi tak ingat pasti berapa orang yang membantu dia keluar dari reruntuhan bangunan. “Yang jelas setelah mereka mengangkat kayu-kayu yang ada di tubuhku, mereka langsung mengangkatku ke bukit,” katanya.
Di tempat pengungsian berupa pondok-pondok warga yang selamat itu mengumpulkan korban yang luka-luka. Kondisi pondok, kata Emi, sudah rusak. Sementara hujan masih terus turun, dan warga kesakitan sambil menahan dingin.
Emi baru lebih sadar setelah matahari mulai menerangi tempat perkampungan mereka. Dia melihat seluruh kampungnya dari atas bukit sudah tidak ada lagi.
“Semua rumah di kampung kami itu sudah habis kena tsunami. Saya baru mendengar anak saya, menantu, dan tiga cucu saya meninggal. Mereka ditemukan sudah tergeletak di tengah kampung, ada yang tersangkut di pohon-pohon dan ada juga yang tertimpa bangunan,” sambil menangis.
(teb)
gw ikut berduka cita..
BalasHapushiks,hiks